English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Sabtu, 17 April 2010

PandawaLima


Pandawa


Pandawa adalah sebuah kata dari bahasa Sanskerta (Dewanagari: पाण्डव; dieja Pāṇḍava), yang secara harfiah berarti anak "Pāṇḍu" (Pandu),  yaitu salah satu Raja Hastinapura dalam wiracarita Mahabharata.  Dengan demikian, maka Pandawa merupakan putra mahkota kerajaan  tersebut. Dalam wiracarita Mahabharata,  para Pandawa adalah protagonis sedangkan antagonis  adalah para Korawa, yaitu putera Dretarastra,  saudara ayah mereka (Pandu). Menurut susastra Hindu (Mahabharata),  setiap anggota Pandawa merupakan penjelmaan (penitisan) dari Dewa tertentu, dan setiap anggota Pandawa memiliki nama  lain tertentu. Misalkan nama "Werkodara" arti harfiahnya adalah "perut serigala". Kelima Pandawa menikah dengan Dropadi  yang diperebutkan dalam sebuah sayembara di Kerajaan Panchala, dan memiliki  (masing-masing) seorang putera darinya.
Para Pandawa merupakan tokoh penting dalam bagian penting dalam  wiracarita Mahabharata, yaitu pertempuran besar di daratan Kurukshetra  antara para Pandawa dengan para Korawa  serta sekutu-sekutu mereka. Kisah tersebut menjadi kisah penting dalam  wiracarita Mahabharata, selain kisah Pandawa dan Korawa main dadu.


Silsilah Pandawa


Para Pandawa terdiri dari lima orang pangeran, tiga di antaranya (YudistiraBima, dan Arjuna)  merupakan putera kandung Kunti, sedangkan yang lainnya (Nakula dan  Sadewa)  merupakan putera kandung Madri, namun ayah mereka sama, yaitu Pandu.
 

Wangsa
Yadawa







Dinasti
Kuru

Raja
Madra




































Surasena

Byasa



Ambalika




Salya

































Kunti




Pandu




Madrim
















































Yudistira

Bima

Arjuna

Nakula

Sadewa

Menurut tradisi Hindu, kelima putra Pandu tersebut  merupakan penitisan tidak secara langsung dari masing-masing Dewa. Hal  tersebut diterangkan sebagai berikut:


Panca Pandawa 


Yudistira
merupakan saudara para Pandawa yang paling tua. Ia merupakan penjelmaan  dari Dewa Yama  dan lahir dari Kunti. Sifatnya sangat bijaksana, tidak memiliki  musuh, dan hampir tak pernah berdusta seumur hidupnya. Memiliki moral  yang sangat tinggi dan suka mema’afkan serta suka mengampuni musuh yang  sudah menyerah. Memiliki julukan Dhramasuta (putera Dharma), Ajathasatru  (yang tidak memiliki musuh), dan Bhārata (keturunan Maharaja Bharata). Ia menjadi seorang Maharaja dunia setelah  perang akbar di Kurukshetra berakhir  dan mengadakan upacara Aswamedha  demi menyatukan kerajaan-kerajaan India Kuno agar  berada di bawah pengaruhnya. Setelah pensiun, ia melakukan perjalanan  suci ke gunung Himalaya bersama dengan  saudara-saudaranya yang lain sebagai tujuan akhir kehidupan mereka.  Setelah menempuh perjalanan panjang, ia mendapatkan surga. Memiliki nama  lain Puntadewa.
Bima
merupakan putera kedua Kunti dengan  Pandu.  Nama bhimā dalam bahasa Sansekerta memiliki arti  "mengerikan". Ia merupakan penjelmaan dari Dewa Bayu sehingga  memiliki nama julukan Bayusutha. Bima sangat kuat, lengannya  panjang, tubuhnya tinggi, dan berwajah paling sangar di antara  saudara-saudaranya. Meskipun demikian, ia memiliki hati yang baik.  Pandai memainkan senjata gada. Senjata gadanya bernama Rujakpala dan pandai  memasak. Bima juga gemar makan sehingga dijuluki Werkodara.  Kemahirannya dalam berperang sangat dibutuhkan oleh para Pandawa agar  mereka mampu memperoleh kemenangan dalam pertempuran akbar di Kurukshetra. Ia memiliki  seorang putera dari ras rakshasa bernama Gatotkaca,  turut serta membantu ayahnya berperang, namun gugur. Akhirnya Bima  memenangkan peperangan dan menyerahkan tahta kepada kakaknya, Yudistira.  Menjelang akhir hidupnya, ia melakukan perjalanan suci bersama para  Pandawa ke gunung Himalaya. Di sana ia meninggal  dan mendapatkan surga. Memilki nama lain Brantasena, dua putra yang lain  selain Gatotkaca ialah Antareja dan Antasena
Arjuna
merupakan putera bungsu Kunti dengan Pandu.  Namanya (dalam bahasa Sansekerta)  memiliki arti "yang bersinar", "yang bercahaya". Ia merupakan penjelmaan  dari Dewa Indra,  Sang Dewa perang. Arjuna memiliki kemahiran dalam ilmu memanah dan  dianggap sebagai ksatria terbaik oleh Drona.  Kemahirannnya dalam ilmu peperangan menjadikannya sebagai tumpuan para  Pandawa agar mampu memperoleh kemenangan saat pertempuran akbar di Kurukshetra. Arjuna memiliki  banyak nama panggilan, seperti misalnya Dhananjaya (perebut  kekayaan – karena ia berhasil mengumpulkan upeti saat upacara Rajasuya  yang diselenggarakan Yudistira); Kirti (yang bermahkota indah –  karena ia diberi mahkota indah oleh Dewa Indra saat  berada di surga);  Partha (putera Kunti – karena ia merupakan putera Pritha alias Kunti).  Dalam pertempuran di Kurukshetra, ia  berhasil memperoleh kemenangan dan Yudistira  diangkat menjadi raja. Setelah Yudistira mangkat, ia melakukan  perjalanan suci ke gunung Himalaya bersama para Pandawa dan melepaskan  segala kehidupan duniawai. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan  mencapai surga. Nama lain Janaka, senjata utama ialah panah Pasopati.
Nakula
merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia  merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang  Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Sadewa,  yang lebih kecil darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga.  Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama adiknya diasuh oleh Kunti, istri  Pandu  yang lain. Nakula pandai memainkan senjata pedang. Dropadi  berkata bahwa Nakula merupakan pria yang paling tampan di dunia dan  merupakan seorang ksatria berpedang yang tangguh. Ia giat bekerja dan  senang melayani kakak-kakaknya. Dalam masa pengasingan di hutan, Nakula  dan tiga Pandawa yang lainnya sempat meninggal karena minum racun, namun  ia hidup kembali atas permohonan Yudistira.  Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia  berperan sebagai pengasuh kuda. Menjelang akhir hidupnya, ia mengikuti  pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama  kakak-kakaknya. Di sana ia meninggal dalam perjalanan dan arwahnya  mencapai surga.
Sadewa
merupakan salah satu putera kembar pasangan Madri dan Pandu. Ia  merupakan penjelmaan Dewa kembar bernama Aswin, Sang  Dewa pengobatan. Saudara kembarnya bernama Nakula,  yang lebih besar darinya, dan merupakan penjelmaan Dewa Aswin juga.  Setelah kedua orangtuanya meninggal, ia bersama kakaknya diasuh oleh Kunti, istri  Pandu  yang lain. Sadewa adalah orang yang sangat rajin dan bijaksana. Sadewa  juga merupakan seseorang yang ahli dalam ilmu astronomiYudistira  pernah berkata bahwa Sadewa merupakan pria yang bijaksana, setara  dengan Brihaspati, guru para Dewa. Ia giat bekerja dan senang melayani kakak-kakaknya.  Dalam penyamaran di Kerajaan Matsya yang dipimpin oleh Raja Wirata, ia  berperan sebagai pengembala sapi. Menjelang akhir hidupnya, ia  mengikuti pejalanan suci ke gunung Himalaya bersama kakak-kakaknya. Di sana ia  meninggal dalam perjalanan dan arwahnya mencapai surga.


Masa kanak-kanak


Pandawa lima yang terdiri atas YudistiraArjunaBima, Nakula dan  Sadewa,  memiliki saudara yang bernama Duryodana  dan 99 adiknya yang merupakan anak dari Dretarastra  yang tak lain adalah paman mereka, sekaligus Raja Hastinapura.  Sewaktu kecil mereka suka bermain bersama, tetapi Bima suka mengganggu  sepupunya. Lambat laun Duryodana merasa jengkel karena menjadi korban  dan gangguan dari ejekan Bima. Suatu hari Duryodana berpikir ia bersama  adiknya mustahil untuk dapat meneruskan tahta dinasti Kuru apabila sepupunya masih ada. Mereka  semua (Pandawa lima dan sepupu-sepupunya atau yang dikenal juga sebagai  Korawa)  tinggal bersama dalam suatu kerajaan yang beribukota di Hastinapura.  Akhirnya berbagai niat jahat muncul dalam benaknya untuk menyingkirkan  para Pandawa beserta ibunya.


Usaha pertama untuk  menyingkirkan Pandawa


Dretarastra yang mencintai keponakannya secara  berlebihan mengangkat Yudistira sebagai putra mahkota tetapi ia langsung  menyesali perbuatannya yang terlalu terburu-buru sehingga ia tidak  memikirkan perasaan anaknya. Hal ini menyebabkan Duryodana  iri hati dengan Yudistira, ia mencoba untuk membunuh para Pandawa  beserta ibu mereka yang bernama Kunti dengan  cara menyuruh mereka berlibur ke tempat yang bernama Waranawata. Di  sana terdapat bangunan yang megah, yang telah disiapkan Duryodana untuk  mereka berlibur dan akan membakar bagunan itu di tengah malam pada saat  Pandawa lima sedang terlelap tidur. Segala sesuatunya yang sudah  direncanakan Duryodana dibocorkan oleh Widura  yang merupakan paman dari Pandawa. Sebelum itu juga Yudistira juga telah  diingatkan oleh seorang petapa yang datang ke dirinya bahwa akan ada  bencana yang menimpannya oleh karena itu Yudistira pun sudah berwaspada  terhadap segala kemungkinan. Untuk pertama kalinya Yudistira lolos dalam  perangkap Duryodana dan melarikan diri ke hutan rimba. Di hutan rimba,  Pandawa bertemu dengan raksasa Hidimba,  dan adiknya Hidimbi. Hidimba dibunuh oleh Bima, lalu Hidimbi  dinikahi. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Gatotkaca.  Setelah beberapa lama, Hidimbi dan Gatotkaca berpisah dengan para  Pandawa sebab para pangeran tersebut harus melanjutkan perjalanannya.


Panca  Pandawa mendapatkan Drupadi



 Pandawa lima yang melarikan diri ke rimba mengetahui akan diadakan sayembara  di Kerajaan Panchala  dengan syarat, barang siapa yang dapat membidik sasaran dengan tepat  boleh menikahkan putri Raja PanchalaDrupada)  yang bernama Panchali atau DropadiArjuna  pun mengikuti sayembara itu dan berhasil memenangkannya, tetapi Bima yang berkata kepada ibunya,  "lihat apa yang kami bawa ibu!". Kunti,  menjawab, "Bagi saja secara rata apa yang kalian dapat". Karena  perkataan ibunya. Pancali pun bersuamikan lima orang. 



Perselisihan  antar keluarga


Pamannya (Dretarastra) yang mengetahui bahwa Pandawa lima  ternyata belum mati pun mengundang mereka untuk kembali ke Hastinapura  dan memberikan hadiah berupa tanah dari sebagian kerajaannya, yang  akhirnya Pandawa lima membangun kota dari sebagian tanah yang diberikan  pamannya itu hingga menjadi megah dan makmur yang diberi nama IndraprasthaDuryodana  yang pernah datang ke Indraprastha iri melihat bangunan yang begitu  indah, megah dan artistik itu. Setelah pulang ke Hastinapura  ia langsung memanggil arsitek terkemuka untuk membangun pendapa yang  tidak kalah indahnya dari pendapa di Indraprastha.  Bersamaan dengan pembangunan pendapa di Hastinapura ia pun merencanakan  sesuatu untuk menjatuhkan Yudistira dan adik adiknya. Yang pada  akhirnya Yudistra pun terjebak dalam rencananya Duryodana dan harus  menjalani pengasingan selama 14 Tahun, di dalam pengasingan itu  Yudistira pun menyusun rencana untuk membalas dendam atas penghinaan  yang telah dilakukan Duryodana dan adik adiknya, yang akhirnya memicu  terjadinya perang besar antara Pandawa dan Korawa  serta sekutu-sekutunya.


Pertempuran  besar di Kurukshetra



 ertempuran besar di Kurukshetra (atau lebih dikenal dengan istilah Bharatayuddha di Indonesia)  merupakan pertempuran sengit yang berlangsung selama delapan belas  hari. Pihak Pandawa maupun pihak Korawa  sama-sama memiliki ksatria-ksatria besar dan angkatan perang yang kuat.  Pasukan kedua belah pihak hampir gugur semuanya, dan kemenangan berada  di pihak Pandawa karena mereka berhasil bertahan hidup dari pertempuran  sengit tersebut. Semua Korawa gugur di tangan mereka, kecuali Yuyutsu,  satu-satunya Korawa yang memihak Pandawa sesaat sebelum pertempuran  berlangsung.



Akhir riwayat


Setelah Kresna  wafat, Byasa  menyarankan para Pandawa agar meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup  sebagai pertapa. Sebelum meninggalkan kerajaan, Yudistira  menyerahkan tahta kepada Parikesit,  cucu Arjuna.  Para Pandawa beserta Dropadi melakukan perjalanan terakhir mereka di  Gunung Himalaya. Sebelum sampai di puncak, satu persatu  dari mereka meninggal dalam perjalanan. Hanya Yudistira yang masih  bertahan hidup dan didampingi oleh seekor anjing yang setia. Sesampainya  di puncak, Yudistira dijemput oleh Dewa Indra yang  menaiki kereta kencana. Yudistira menolak untuk mencapai surga jika  harus meninggalkan anjingnya. Karena sikap tulus yang ditunjukkan oleh  Yudistira, anjing tersebut menampakkan wujud aslinya, yaitu Dewa Dharma.  Dewa Dharma berkata bahwa Yudistira telah melewati ujian yang diberikan  kepadanya dengan tenang dan ia berhak berada di surga.
Sesampainya di surga, Yudistira  terkejut karena ia tidak melihat saudara-saudaranya, sebaliknya ia  melihat Duryodana beserta sekutunya di surga. Dewa Indra  berkata bahwa saudara-saudara Yudistira berada di neraka. Mendengar hal  itu, Yudistira lebih memilih tinggal di neraka bersama  saudara-saudaranya daripada tinggal di surga. Pada saat itu, pemandangan  tiba-tiba berubah. Dewa Indra pun berkata bahwa hal tersebut merupakan  salah satu ujian yang diberikan kepadanya, dan sebenarnya saudara  Yudistira telah berada di surga. Yudistira pun mendapatkan surga.
sumber: wikipedia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar